[25/6 10.43] Dandung Danahadi: ﷽
Sebagai bahan renungan sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur, ijinkan saya menceritakan pengalaman kecil saat opname di Ruang Chamdani 9-B, RS PKU Muhammadiyah Sruweng, Kebumen. Sebuah momen mencekam yang tak bisa saya lupakan.
Sabtu 5 Juni 2021, menjelang maghrib, saya merasakan kondisi badan saya sangat lemah. Dalam kondisi seperti itu, ditambah satu tangan diinfus dan hidung menghirup oksigen melalui selang kecil, maka untuk melaksanakan shalat, saya tidak berwudlu, melainkan tayammum dengan segala keterbatasan. Shalat maghrib dan isya' saya laksanakan sambil berbaring dengan jama' dan qashar. Entah kenapa, sejak sore hingga malam hari, mulut saya seperti terkunci dan berat untuk mengucapkan sesuatu (belakangan saya baru tahu setelah membaca sebuah tulisan tentang covid-19, bahwa ada saat dimana penderita akan sulit berbicara seperti bisu).
Sampailah dini hari, entah jam berapa tepatnya, mungkin sekitar jam dua atau setengah tiga, tanpa saya sadari oksigen yang saya hirup dari tabung melalui selang kecil itu habis. Nafas pun tersengal-sengal, tersendat-sendat, seperti sekarat. Saya merasakan batas antara hidup dan mati begitu dekat.
Kebetulan di dipan dimana saya berbaring tidak disediakan bel khusus untuk memanggil perawat. Pesan perawat ; kalau ada apa-apa, tangan harap melambai-lambai, agar tertangkap cctv dari ruang perawat, atau tilp/wa nomer 0878 3743 .... (nomer ruang perawat). Saya pun sudah melambai-lambaikan tangan, tapi dengan lemah, bisa jadi perawat tidur karena dini hari, atau lambaian tangan saya tak begitu jelas tertangkap kamera karena lampu ruangan memang saya minta untuk dimatikan (agar bisa tidur), sementara hp saya ada di kursi plastik di sebelah dipan, dan saya benar-benar dalam kondisi tidak berdaya.
Lisan yang sejak sore terkunci rapat, di saat kritis itu, dengan sebuah tekad akhirnya bisa mengucap _"Laa ilaaha illallah ... "._ Saya pun mengucapkannya beberapa kali. Namun nafas normal itu belum juga kembali.
Terbata-bata saya mengucapkan do'a _"Rabbana faghfir lanaa dzunuubana wa kaffir 'annaa sayyi'aatina watawaffana ma'al Abror"_ (3:193). Di situlah saya nangis dan pasrah. Saya mohon kesembuhan, namun jika memang sudah saatnya wafat, saya mohon diwafatkan bersama orang-orang yang taat. Saya kembali membaca kalimah tauhid, tak terhitung jumlahnya, entah berapa kali saya melafadzkannya, karena saya merasa itulah saat akhir hidup saya.
Subhanallah, nafas yang semula sesak dan tersengal-sengal, berangsur-angsur normal kembali. Saya bersyukur masih dikaruniai hidup hingga hari ini.
_(Krendetan, 25 Juni 2021/ 14 Dzulqa'dah 1442)_
[25/6 14.20] Dandung Danahadi: Matur nuwun, Bapak-Ibu. Sampai sekarang dan mungkin selama hidup, saya tidak akan bisa melupakan momen itu, sekaligus mengingatkan saya untuk selalu bersyukur atas kasih sayang dan pertolongan Allah kepada saya.
Ketika pengalaman ini saya ceritakan kepada keluarga, seorang mbakyu saya mengatakan begini :
_"Dan di jam-jam itu saya yakin banyak sedulur dan teman-teman yang sedang shalat tahajud dan mendoakan agar adikku segera diangkat penyakitnya dan segera sembuh. Alhamdulillaah, saya termasuk orang yang percaya dengan kekuatan do'a."_
Saya benar-benar trenyuh mendengar itu, dan saya pun teringat sahabat-sahabat saya dan saudara-saudara saya yang biasa melaksanakan shalat tahajud. Barangkali di saat kritis itu ada salah seorang dari mereka yang mendo'akan saya dan Allah mengabulkan do'anya. Allahu A'lam.
Perihal kalimah tauhid, sebagian besar kita pasti pernah membaca atau mendengar sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ini dibacakan :
من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة
_"Barangsiapa yang akhir ucapannya Laa Ilaaha Illallah, pasti ia masuk Surga"_ [HR. Hakim, hadits hasan].
Sebagian orang kemudian berkata, betapa mudahnya untuk masuk surga, cukup dengan melafadzkan kalimah tauhid di akhir hayat. Masya'Allah. Barangkali dia mengira bahwa melafadzkan kalimah tauhid di saat sakaratul maut itu mudah. Padahal tidaklah seseorang bisa mengucapkan kalimah tauhid saat sakaratul maut, kecuali kalimah tauhid itu sudah biasa menghiasi lisannya, dan atas hidayah Allah Subhnahu wa Ta'ala tentunya.
Mampu melafadzkan kalimah tauhid di akhir hayat menjadi dambaan kita semua. Semoga kita diwafatkan oleh Allah dalam akhir yang baik; _husnul khatimah._ Aamin yaa Rabbal 'alamiin.
➖➖➖
Tidak ada komentar:
Posting Komentar