Nama desa Semawung di kabupaten purworejo ada dua yakni desa semawung purworejo dan desa semawung kutoarjo.
A. sejarah semawung purworejo
Tahun 1478 Masehi ini . Seorang Pangeran keturunan Raja Majapahit anak Prabu Brawijaya V bernama Raden Joko Dubruk/ Raden Semawung/ Pangeran Tatung Malara datang melalui Bagelen (menelusuri sungai Bogowonto) ke arah hilir mendarat di tanah Tepian sungai Bogowonto yang keseluruhan wilayahnya di kelilingi oleh Anakan sungai yaitu sungai Mongo dan Sungai Gesing .Pendaratan diperkirakan di Tegal Dhuwur (Hulu sungai Gesing selatan Desa Semawung sekarang). Pendaratan ini adalah dalam rangka pelarian dari pengejaran tentara Demak Bintoro
Jaka Dubruk atau Raden Semawung merupakan salah satu Putra Sang Prabu Brawijaya V . Jaka Dubruk juga sering disebut Jaka Warih karena dia keturunan Raja (warih artinya air, atau suatu keturunan, genetik mulia, punya warih Ratu artinya keturunan raja) secara melegenda beliau disebut Joko Semawung .
Mendaratnya Raden Semawung (setelah 1478 M) kala itu masih belia, karena suatu tekanan pergantian politik kekuasaan pasca Majapahit runtuh , Beliau didampingi para wiku, ponggawa pengikut… Secara cerita mulut ke mulut yang berkembang di masyarakat diantaranya :
1.Kyai Tirtoyoso – tempat orang belajar ilmu (Pendeta makam di tepi sungai Gesing)
Tirto = air, ilmu sedangkan Yoso= penyedia, tempat,
2. Kyai Onggo Hapsoro ( menetap di Onggosaran, Cengkawak rejo)
3. Dipo Dongso
4.Onggo Anem
Cikal Bakal pendiri Wilayah Desa .
Tidak berapa lama seperti membuka peradaban baru Raden Semawung atau joko semawung membuka wilayah hutan (alas) dengan batas batas perairan.untuk wilayah padukuhan dan lembah sungai Gesing untuk lahan sawah. Waktu pengerjaan buka desa/babad alas ternyata penduduk di bukit menoreh ( kalah waktu perang dengan wangsa syailendra) turun dan ikut membantu
-Tahun ±1500-an Masehi Nama Semawung sebagai suatu desa wilayah yang tumbuh dibangun Pangeran Anak Prabu Brawijaya V disegani dengan banyak culture budaya yang tinggi nilainya . (Tentu saja nama Semawung jangan dikaitkan dengan nama semawung yang muncul kemudian sebagai suatu nama Kadipaten semawung (kutoarjo) dan nama tempat desa di Kabupaten kulon progo sekarang).
Desa Hasil bukaan hutan makin ramai dengan penataan wilayah batas perairan system kerajaan :
1. Wilayah Krajan
2. Wilayah kemantrian (Kemantren)
3. Wilayah Kenyaen (Putren-nyai)
4. Wilayah Sucen/Pasucen
5. Wilayah Kembaran (Kemboro an, boro-pendatang)
6. (Wilayah jati salam belum ada)
Sungguh wilayah yg benar-benar luas untuk sebuah desa
· Budaya seni lama yang masih hidup adalah Jaran Kepang Angklung dengan alur cerita Panji ,Cerita seputar Kerajaan Kediri dan Jenggala sebuah cerita yang jauh sebelum adanya majapahit artinya Desa Semawung terbentuk pada jaman Majapahit dengan cerita rakyat Panji Asmoro Bangun yang terkenal. Berbeda dengan riwayat Desa-desa pegunungan menoreh.. tentara majapahit yang datang kemudian setelah Majapahit runtuh porak poranda tahun 1521 Masehi mereka membabad hutan sumongari adalah pasukan berkuda sehingga mereka menciptakan Kesenian Incling merupakan tarian pasukan berkuda
Tata pemerintahan berjalan dan penempatan penduduk sesuai fungsi dan pembagian tanah dari penguasa desa. Diperkirakan Sucen wilayah terpisah dan di sana tempat peribadatan
Hasil pertanian yang bagus berupa Palawija, padi, kelapa, aren dan siwalan . Polowijo, Gula kelapa sangat dominan sebagai hasil pertanian sepanjang tahun. Rojokoyo berupa Ayam Kedu,kambing dan kerbau yang digunakan sekaligus untuk membajak sawah.
Hasil perikanan didapat dari Sungai Bogowonto Wader, Lunjar, Ulin, sidat, lele,gabus dan ikan Serni (sejenis kerapu air tawar)
Palawija berupa Jagung,kacang tanah, uwi, gembili, gembolo,pogung
Perdagangan juga terjalin baik dengan wilayah sekitarnya, sungai bogowonto sebagai urat nadi perdagangan. Dari luar masuk barang-barang pecah belah, keramik, pakaian batik , tenun dan barang-barang terbuat dari besi (jalan desa sebelum di aspal banyak pecahan keramik dengan teknik glazur cina zaman dinasti apa ?)
Hal yang paling menonjol dalam kemasyarakatan adalah berkembangnya pengetahuan filsafat. Tidak mengherankan karena ada Pendeta/Wiku yang mengajar semacam laku tarekat
Dari padepokan Tirtoyoso ini muncul penghayat filsafat keagamaan (tingkat makrifat) yang mirip dengan Islam
Setelah keadaan desa terbentuk, Joko Semawung memilih melanjutkan perjalanan sampai di wilayah Bagelen kemudian mempersunting Putri dari Bagelen (Ada yang berkeyakinan beliau mempersunting Nyai Ageng Bagelen / Ratu Roro Rengganis ?
tapi jika dikaitkan tentunya sudah tidak sejaman. Karena adanya Ratu Roro Rengganis pada saat Bagelen merupakan kerajaan Galuh atau Pagaluhan, ada tembang yang menyebutkan putri dari desa beduk Bagelen lahirnya sunan Geseng)
Perjalanan beliau menjadi suatu legenda terbentuk nama-nama desa yang bersebelahan dengan Semawung, Seperti Piji, Kemanukan pecekelan…..
Perkawinan dengan putri dari Bagelen (dari desa Beduk) mempunyai anak bernama Cokrojoyo. Raden Cokrojoyo dititipkan berguru ke Kyai Tirtoyoso
Kehidupan Cokrojoyo muda seperti sekedar penduduk biasa dengan mata pencarian sebagai penderes kelapa untuk menghasilkan Gula Jawa.Itupun dijalani sebagai bagian dari laku filsafat yang dijalaninya Topo ngrame ( karena orang jawa bukan penganut filsafat abstrak) bisa juga karena penyamaran menghindari kekuasaan Demak.
B. desa semawung Kutoarjo
Pada tahun 1587 Danang Sutowijoyo atau Panembahan Senopati Loring Pasar putra dari Ki Ageng Pemanahan (awal berdirinya Mataram Islam), mendirikan Kesultanan Mataram. Putera pertama Ki Ageng Panjawi yang bernama Wasis Jayakusuma menjadi Adipati Pati bergelar Adipati Pragola Pati I.
Menurut Babad Tanah Jawi, Wasis Jayakusuma/Adipati Pragola Pati I mempunyai putra :
1. Raden Mas Tjoemantoko
2. Raden Ayu Retno Dumillah/Kanjeng Ratu Beroek/Putri Moertisari
3. Raden Mas Baoeredjo
Nama asli Prabu Hanyakrawati adalah Raden Mas Jolang, putra Panembahan Senapati raja pertama Kesultanan Mataram. Ibunya bernama Ratu Mas Waskitajawi, putri Ki Ageng Panjawi, penguasa Pati. Antara kedua orang tua Mas Jolang tersebut masih terjalin hubungan sepupu.
Setelah dewasa, menjadi Sultan Mataram dengan gelar Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati Senapati-ing-Ngalaga Mataram (lahir: Kotagede, ? - wafat : Krapyak, 1613) adalah raja kedua Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1601-1613. Prabu Hanyakrawati meninggal dunia pada tahun 1613 karena kecelakaan sewaktu berburu kijang di Hutan Krapyak, sehingga terkenal dengan gelar anumerta Panembahan Seda ing Krapyak atau Panembahan Seda Krapyak yang bermakna "Baginda yang wafat di Krapyak". Tokoh ini merupakan ayah dari Sultan Agung, raja terbesar Mataram yang juga pahlawan nasional Indonesia (http://id.wikipedia.org/wiki/Panembahan_Hanyakrawati)
Raden Mas Tjoemantoko diangkat menjadi Tumenggung di Semawung bagian dari tlatah Bagelen oleh sepupunya yang bernama Raden Mas Jolang dan diberi gelar Raden Tumenggung Tjoemantoko. Setelah Raden Tumenggung Tjoemantoko wafat, dimakamkan di bukit Satria Desa Kaliwatubumi Kecamatan Butuh, masyarakatnya sering menyebut sebagai MBAH GIRI TJOEMANTOKO.
Putra beliau yang bernama Raden Mas Kowoe/Ki Kowoe menggantikan ayahandanya menjadi Tumenggung Semawung dengan gelar Raden Tumenggung Tjoemantoko II, yang mempunyai keturunan bernama Raden Mas Gatoel.
Setelah dewasa Raden Mas Gatoel ingin mencari pengalaman, oleh ayahandanya Raden Mas Kowoe/Ki Kowoe dijinkan dan disuruhnya mengabdi kepada Adipati Jojokusumo di Kadipaten Gombong. Di sana Raden Mas Gatoel awalnya menjadi prajurit biasa.
Kepandaian Raden Mas Gatoel dalam olah kanuragan dan keprajuritan sangat baik, maka beliau dijadikan pengawal pribadi "Kajineman" Adipati Jojokusumo mengawal sowan ke Kartosuro, sehingga Raden Mas Gatoel juga disebut dengan Kyai/Ki Jinem.
Setelah Raden Mas Kowoe/Ki Kowoe atau Raden Tumenggung Tjoemantoko II wafat dan dimakamkan di Desa Kuwurejo, kedudukannya digantikan Raden Mas Gatoel/Ki Jinem dengan gelar Raden Tumenggung Tjoemantoko III.
Konon Raden Tumenggung Tjoemantoko III suka berkelana dan sempat menemukan keris kecil yang bernama Kyai Sawunggalih (pusaka kraton di dalam kayu jati di daerah Bruno), Raden Tumenggung Tjoemantoko III dalam tidurnya bermimpi kalau itu adalah Pusaka Kraton dan minta untuk dikembalikan, lalu pusaka itu dikembalikan ke kraton dan diterima dengan senang hati oleh Raja.
Raden Tumenggung Tjoemantoko III mempunyai putra bernama Raden Mas Bancak. Setelah Raden Tumenggung Tjoemantoko III wafat dan dimakamkan di Bukit Satria Desa Kaliwatubumi Kecamatan Butuh. diteruskan oleh putranya yang bernama Raden Mas Bancak dengan gelar Tumenggung Bantjik Kertonagoro Sawunggalih I setelah wafat digantikan putranya yang bergelar Tumenggung Bantjik Kertonagoro Sawunggalih II, pada saat itu pusat pemerintahan dipindah dari Semawung Kembaran ke Semawung Daleman.
Setelah Tumenggung Bantjik Kertonagoro Sawunggalih II wafat, diganti oleh menantunya Raden Mas Soerokusumo yang sebelumnya menjabat Patih di Kabupaten Ambal (Kebumen). pada saat pemerintahan Raden Mas Soerokusumo pusat pemerintahan dari Semawung Daleman dipindah ke Desa Senepo dan Senepo diganti nama menjadi Kutoarjo. Raden Mas Soerokusumo menjadi Bupati pertama di Kutoarjo bergelar Raden Adipati Aryo Soerokusumo. Dalam catatan ditemukan pertumbuhan perdagangan di Kutoarjo lebih maju daripada Kabupaten Purworejo. Di kutoarjo waktu itu banyak perajin tenun dan barang pecah belah dari tanah liat. Semawung merupakan daerah perdagangan yang cukup ramai, saat itu banyak pedagang-pedagang Cina berdatangan.
Raden Adipati Soerokusumo setelah wafat dimakamkan dekat makam Ageng Loano, pengganti RAA Soerokusumo atas kebijaksanaan Sunan Pakubuwono bukan putra RAA Soerokusumo, tetapi dipilih dari pejabat yang langsung dari kerabat Keraton Surakarta, yaitu RAA Pringgo Atmodjo yang memerintah sampai tahun 1870.
Pada jaman pemerintahan Raden Adipati Soerokusumo dibangun kantor kabupaten di atas tanah seluas 8 hektar, sampai berakhirnya pemerintahan Raden Adipati Soerokusumo, pembangunan belum selesai dan dilanjutkan oleh RAA Pringgo Atdmodjo sampai tahun 1870 sudah lengkap dengan Alun-alun Kutoarjo. Waktu itu dibangun pula rumah kepatihan yang kini menjadi kantor Kecamatan Kutoarjo, sedangkan rumah dinas dan kontrolir yang terletak di Dusun Tegal Desa Senepo sebagian masih utuh dan sekarang dijadikan untuk Mapolsek Kutoarjo, kantor Landraad/Kejaksaan di sudut alun-alun Kutoarjo yang sekarang dimanfaatkan oleh PDAM.
Waktu pemerintahan RAA Pringgo Atdmodjo Kabupaten Kutoarjo dibagi menjadi empat kawedanan, yaitu : Kemiri, Pituruh, Grabag/Ketawang dan Purwodadi, sedangkan Masjid Jami Kutoarjo dibangun tahun 1860 lengkap dengan kantor pengadilan agama atau penghulu.
Tahun 1875 Masjid Jami Kutoarjo dipugar oleh RAA Poerbo Atdmodjo.
Perdagangan di Kutoarjo semakin pesat setelah dibangun rel kereta api Yogyakarta - Purwokerto tahun 1880 – 1885, kemudian pada tahun 1890 dibangun rel kereta dari Kutoarjo - Purworejo.
Nama-nama penguasa di Kadipaten Semawung yang kemudian menjadi Kabupaten Kutoarjo, pada awal luas wilayahnya sampai Purworejo :
Raden Tumenggung Tjoemantoko I (makamnya di Bukit Satria Kaliwatubumi)
Raden Mas Kuwu/Raden Tumenggung Tjoemantoko II
Raden Mas Gatoel/Ki Jinem/Raden Tumenggung Tjoemantoko III (makamnya di Kelurahan Semawung Kembaran Kutoarjo)
Raden Bantjak/Tumenggung Bantjik Notonagoro Sawunggalih I (makamnya di Kelurahan Semawung Kembaran Kutoarjo)
Tumenggung Bantjik Notonagoro Sawunggalih II (makamnya di Kelurahan Semawung Daleman Kutoarjo)
RAA Soerokusumo (makamnya di Pesarean Ageng Loano)
RAA Pringgo Atmodjo sampai tahun 1870. (makamnya di Bukit Satria Kaliwatubumi dekat makam Raden Tumenggung Tjoemantoko I)
RAA Toerkidjo Poerbo Atdmodjo 1870 - 1915 (makamnya di Bukit Satria kaliwatubumi)
RAA Poerbo Hadikoesoemo 1915 - 1933.
Para penguasa di Kabupaten Kutoarjo merupakan keturunan dari RM. Said atau Kanjeng Sunan Kalijaga
Sejarah Kutoarjo yang bernama Semawung lebih tua daripada Purworejo yang dulu bernama Brengkelan, sejarah Kutoarjo dimulai dengan adanya Mataram Islam dan para penguasanya memiliki garis keturunan ningrat/keraton. Purworejo sendiri pada awalnya termasuk dalam kekuasaan Kutoarjo..
sambungan sejarah desa semawung Purworejo
Dikutip dari blogger Setyo Hajar Dewantorodapat menggambarkan tersingkirnya Raden Semawung karena pergeseran Politik Kekuasaan
Secara akademik, teori penyerangan Prabu Girindrawardhana terhadap Majapahit ini ditolak oleh Prof. Dr. Slamet Muljana. Menurut Muljana, nama Girindrawardhana ditemukan pada prasasti Jiyu 1408 tahun Saka atau 1486 M, delapan tahun setelah tahun yang dianggap sebagai masa keruntuhan Majapahit akibat serangan Demak. Muljana lantas menghubungkannya dengan kronik Cina yang berasal dari kuil Sam Po Kong di Semarang. Muljana menyatakan bahwa seorang menantu Kertabhumi menjadi bawahan Demak dan harus membayar upeti. Tarikh tahun yang digunakan adalah 1488. Tokoh yang dimaksud dalam kronik Tionghoa disebutkan dengan nama Pa Bu Ta La. Slamet Muljana berspekulasi bahwa Pa Bu Ta La yang dimaksud adalah Girindrawardhana, sebab menurutnya kata “Ta La” adalah transkripsi dari dra sebagai unsur nama Girindrawardhana. Dari analisa ini maka ditarik kesimpulan bahwa Girindrawardhana tidak mungkin menyerang kepada Majapahit sebab justru Girindrawardhana justru tunduk kepada Demak. Menurut Muljana, Demaklah yang menyerang Majapahit pada masa Prabu Brawijaya V.
Saya sendiri, punya analisis yang mendukung kesimpulan bahwa Majapahit memang runtuh oleh Kerajaan Demak, dan setelah itu terjadi pembumihangusan yang sistematik terhadap kekuatan politik bahkan warisan budaya Majapahit. Peristiwa “pembunuhan” Ki Ageng Kebo Kenongo oleh Sunan Kudus atas perintah Raden Patah adalah salah satu petunjuk akan benarnya kesimpulan tersebut.
Tak lama setelah Demak menghancurkan Majapahit, guna mengukuhkan kekuasaan politik yang baru digenggam, maka seluruh pengganggu potensial harus disingkirkan, lepas dari mereka benar-benar akan mengganggu atau tidak.
Petunjuk lain, adalah apa yang terjadi dengan para keturunan Prabu Brawijaya V. Prabu Brawijaya V memiliki anak sebagai berikut:
1. Raden Jaka Dilah, menjabat Adipati di Palembang;
2. Raden Jaka Pekik (Harya Jaran Panoleh), menjabat Adipati di Sumenep;
3. Putri Ratna Pambayun, menikah dengan Prabu Srimakurung Handayaningrat
4. Raden Jaka Peteng
5. Raden Jaka Maya (Harya Dewa Ketuk) adipati di Bali.
6. Dewi Manik, menikah dengan Hario Sumangsang Adipati Gagelang
7. Raden Jaka Prabangkara, pergi ke negeri Cina
8. Raden Harya Kuwik Adipati Borneo
9. Raden Jaka Kutik (Harya Tarunaba) Adipati Makasar;
10. Raden Jaka Sujalma (Adipati Suralegawa di Blambangan)
11. Raden Surenggana tewas dalam peristiwa penyerbuat Demak
12. Retno Bintara istri Tumenggung Singosaren Adipati Nusabarung
13. Raden Patah; Sultan Demak
14. Raden Bondan Kejawan, Ki Ageng Tarub III yang menurunkan raja-raja Mataram;
15. Retno Kedaton, kamuksan di Umbul Kendat Pengging.
16. Retno Kumolo (Raden Ayu Adipati Jipang), menikah dengan Ki Hajar Windusana;
17. Raden Jaka Mulya (Raden Gajah Permada);
18. Putri Retno Mas Sakti, menikah dengan Juru Paningrat
19. Putri Retno Marlangen, menikah dengan Adipati Lowanu;
20. Putri Retno Setaman, menikah dengan Adipati Jaran Panoleh di Gawang;
21. Retno Setapan istri Harya Bangah Bupati Kedu Wilayah Pengging
22. Raden Jaka Piturun, Adipati Ponorogo dikenal sebagai Betara Katong.
23. Raden Gugur, hilang di Gunung Lawu
24. Putri Kaniten, menikah dengan Hario Baribin, di Madura;
25. Putri Baniraras, menikah dengan Hario Pekik, di Pengging;
26. Raden Bondan Surati mati obong di Hutan Lawar Gunung Kidul
27. Retno Amba, menikah dengan Hario Partaka;
28. Retno Kaniraras
29. Raden Ariwangsa
30. Raden Harya Suwangsa (Ki Ageng Wotsinom di Kedu)
31. Retno Bukasari istri Haryo Bacuk
32. Raden Jaka Dandun, nama gelar Syeh Belabelu;
33. Retno Mundri (Nyai Gadung Mlati) istri Raden Bubaran, kamuksan di Sendak Pandak Bantul
34. Raden Jaka Sander, nama gelar Nawangsaka;
35. Raden Jaka Bolod, nama gelar Kidangsoka;
36. Raden Jaka Barak, nama gelar Carang Gana;
37. Raden Jaka Balarong
38. Raden Jaka Kekurih/Pacangkringan
39. Retno Campur.
40. Raden Jaka Dubruk/Raden Semawung/Pangeran Tatung Malara
41. Raden Jaka Lepih/Raden Kanduruhan
42. Raden Jaka Jadhing/Raden Malang Semirang
43. Raden Jaka Balur/Ki Ageng Megatsari/Ki Ageng Mangir I
44. Raden Jaka Lanang, dimakamkan di Mentaok Jogja
45. Raden Jaka Wuri
46. Retno Sekati;
47. Raden Jaka Balarang
48. Raden Jaka Tuka/Raden Banyak Wulan
49. Raden Jaka Maluda/Banyak Modang dimakamkan di Prengguk Gunung Kidul
50. Raden Jaka Lacung/Banyak Patra/Harya Surengbala
51. Retno Rantam
52. Raden Jaka Jantur
53. Raden Jaka Semprung/Raden Tepas makam di Brosot Kulonprogo
54. Raden Jaka Gambyong
55. Raden Jaka Lambare/Pecattanda dimakamkan di Gunung Gambar Ngawen Gunung Kidul
56. Raden Jaka Umyang/Harya Tiran
57. Raden Jaka Sirih/Raden Andamoing
58. Raden Joko Dolok/Raden Manguri
59. Retno Maniwen
60. Raden Jaka Tambak
61. Raden Jaka Lawu/Raden Paningrong
62. Raden Jaka Darong/Raden Atasingron
63. Raden Jaka Balado/Raden Barat Ketigo
64. Raden Beladu/Raden Tawangtalun
65. Raden Jaka Gurit
66. Raden Jaka Balang
67. Raden Jaka Lengis/Jajatan
68. Raden Jaka Guntur
69. Raden Jaka Malad/Raden Panjangjiwo
70. Raden Jaka Mareng/Raden Pulangjiwo
71. Raden Jaka Jotang/Raden Sitayadu
72. Raden Jaka Karadu/Raden Macanpura
73. Raden Jaka Pengalasan
74. Raden Jaka Dander/Ki Ageng Gagak Aking
75. Raden Jaka Jenggring/Raden Karawita
76. Raden Jaka Haryo
77. Raden Jaka Pamekas
78. Raden Jaka Krendha/Raden Harya Panular
79. Retna Kentringmanik
80. Raden Jaka Salembar/Raden Panangkilan
81. Retno Palupi istri Ki Surawijaya (Pangeran Jenu Kanoman)
82. Raden Jaka Tangkeban/Raden Anengwulan dimakamkan di Gunung Kidul
83. Raden Kudana Wangsa
84. Raden Jaka Trubus
85. Raden Jaka Buras/Raden Salingsingan dimakamkan di Gunung Kidul
86. Raden Jaka Lambung/Raden Astracapa/Kyai Wanapala
87. Raden Jaka Lemburu
88. Raden Jaka Deplang/Raden Yudasara
89. Raden Jaka Nara/Sawunggaling
90. Raden Jaka Panekti/Raden Jaka Tawangsari/Pangeran Banjaransari dimakamkan di Taruwongso Sukoharjo
91. Raden Jaka Penatas/Raden Panuroto
92. Raden Jaka Raras/Raden Lokananta
93. Raden Jaka Gatot/Raden Balacuri
94. Raden Jaka Badu/Raden Suragading
95. Raden Jaka Suseno/Raden Kaniten
96. Raden Jaka Wirun/Raden Larasido
97. Raden Jaka Ketuk/Raden Lehaksin
98. Raden Jaka Dalem/Raden Gagak Pranala
99. Raden Jaka Suwarna/Raden Taningkingkung
100. Raden Rasukrama istri Adipati Penanggungan
101. Raden Jaka Suwanda/Raden Harya Lelana
102. Raden Jaka Suweda/Raden Lembu Narada
103. Raden Jaka Temburu/Raden Adangkara
104. Raden Jaka Pengawe/Raden Sangumerta
105. Raden Jaka Suwana/Raden Tembayat
106. Raden Jaka Gapyuk/Ki Ageng Pancungan
107. Raden Jaka Bodo/Ki Ageng Majasto
108. Raden Jaka Wadag/Raden kaliyatu
109. Raden Jaka Wajar/Seh Sabuk Janur
110. Raden Jaka Bluwo/Seh Sekardelimo
111. Raden Jaka Sengara/Ki Ageng Pring
112. Raden Jaka Suwida
113. Raden Jaka Balabur/Raden Kudanara Angsa
114. Raden Jaka Taningkung
115. Raden Retno Kanitren
116. Raden Jaka Sander (Harya Sander)
117. Raden Jaka Delog/Ki Ageng Jatinom Klaten.
Di antara keturunan Prabu BRAWIJAYA V Pamungkas, sebanyak 8 (delapan) putera-puteri pindah dan berkedudukan di pulau Bali, beserta banyak punggawa (abdi dalem) dan rakyat pengikutnya (kawulo). Mereka mendirikan kerajaan dan menurunkan para raja di Bali. Dan mereka tergolong yang selamat atau dalam relatif baik karena tidak terjangkau oleh kejaran lawan politik mereka. Sementara itu, banyak putra Prabu Brawijaya V yang benar-benar sampai bertebaran ke berbagai tempat, sebagian mereka bahkan melarikan diri ke hutan dan gunung. Salah seorang putra yang bernama Raden Jaka Surenggana tewas dalam penyerbuan Demak. Dan sebagian lainnya ada yang gugur dalam pertempuran berikutnya saat mereka dikejar oleh tentara Demak. Di Pandak, Bantul, juga dikenal makam Kyai Ewer/Klewer. Dia adalah prajurit Majapahit yang dikejar tentara Demak, hingga bersembunyi di tanah tandus dan bajunya sobek-sobek (pating klewer). Ini yang menguatkan kesimpulan bahwa apa yang dikisahkan dalam Serat Darmagandul, sekalipun serat itu lebih berbentuk sebagai sebuah buku sastra ketimbang buku sejarah, bahwa Majapahit memang runtuh oleh Demak, memang sulit diabaikan kebenarannya.
(demikian kutipannya)
Bukti bahwa Desa Semawung adalah dibuka jaman majapahit adalah kesenian Jaran Angklung dengan cerita Panji jaman Kerajaan Kediri yang tersebar secara turun tumurun, Desa sekitar tidak ada kesenian yang mempunyai alur cerita seperti itu. Demikian penataan administrasi krajan, mantrian,kenyaen ; luas desa seperti penataan kerajaan kecil
Masjid Tiban berada di Dusun Jatisalam Desa Semawung merupakan ciri dari dakwah Sunan Geseng secara monumental menjadi saksi keberadaan sunan Geseng ,cerita rakyat menuturkan banyak kaum bangsawan kraton menjadi santri di Desa semawung
sedangkan hubungan sejarah antara desa semawung yg berada di purworejo dengan desa semawung di kutoarjo belum saya temukan...bagi para pembaca atau netijen yg memiliki sejarah mengenai hubungan semawung purworejo dengan semawung kutoarjo silahkan di share di sini
REFERENSI :
https://klangsir.blogspot.com/2013/05/riwayat-deso-semawung-purworejo.html
Referensi :
http://argopenikutoarjo.blogspot.com/…/Sejarah%20dan%20Riwa…
Referensi :
http://administrasibisnis.polsa.ac.id/…/sekilas-sejarah-ku…/
Referensi : Disadur dan diedit dari wikipedia :
- https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Mataram
- https://id.wikipedia.org/wiki/Babad_Tanah_Jawi
- https://id.wikipedia.org/wiki/Sutawijaya
- https://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Agung_dari_Mataram
- https://id.wikipedia.org/…/Daftar_pahlawan_nasional_Indones…
sumber gambar : http://jejakkolonial.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar