Model pembelajaran klasikal merupakan kegiatan pembelajaran yang
tergolong efisien. Pembelajaran klasikal ini memberi arti bahwa kegiatan seorang guru,
yaitu mengelola kelas dan mengelola pembelajaran. Pengelolaan kelas
dimaksudkan untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan terselenggaranya
kegiatan pemebelajaran secara baik dan menyenangkan yang dilakukan di
dalam bersama sejumlah peserta didik yang dibimbing oleh seorang
guru.
Dalam hal ini, guru dituntut kemampuannya menggunakan teknik-teknik
penguatan dalam pembelajaran agar ketertiban belajar dapat diwujudkan.
Pengajaran klasikal dirasa lebih sesuai dengn kurikulum yang uniform, yang dinilai melalui ujian uniform
pula. J.H. Pestelozzi (1746-1827) memopulerkan pengajaran klasikal ini
sebagai pengganti pangajaran individual oleh seorang tutor.
Pembelajaran klasikal merupakan keharusan dalam menghadapi jumlah murid
yang banyak membaniri sekoah sebagai akibat dari demokrasi,
industrialisasi, pemerataan pendidikan dan kewajiban belajar setiap
warga Negara.
Konsekuensi dari
pembelajaran klasiskal, buku pelajaran yang diterbitkan oleh pemerintah
harus seragam. Buku-bulu lain boleh digunakan asalkan mengacu pada
kurikulum yang diterbitkan oleh pemerintah.
Patalozzi sebagai toko yang melahirkan gagasan-gagasan besar tentang
pendidikan antara lain: (1) mendemokrasikan pendidikan dengan menyatakan
hak mutlak dari setiap anak untuk mengenbangkan potensi drinya
sepenuhnya; (2) memposisikan antara teori dan praktek pendidikan harus
didasarkqan pada psikologi individu manusia; (3) mendasarkan pendidikan
pada perkembangan organik daripada pemindahan gagasan-gagasan; (4)
pendidikan mulai dengan persepsi tentang obyek-obyek yang konkrit,
pembentukan tindaka-tindakan yang konkrit, dan pengalaman terhadap
respon-respon emosional yang aktual, (5) perkembangan adalah sebauah
pembangaunan potensi secara beransur-ansur. Setiap bentuk pengajaran
harus dilakukan dengan perlahan-lahan, melalui perjalanan yang yang
sesuai dengan perkembangan kemampuan dari peserta didik; (6)
perasaan-perasaan keagamaan dibentuk mendahului dari kata-kata atau
symbol-simbol yang dimiliki peserta didik; (7) perlu ada pandangan yang
revolusioner tentang disiplin yang disarkan pada kemauan baik dan
kerjasama antar peserta didik dan pendidik; dan (8) diperlukan alat baru
dalam pendidikan guru dan studi tentang pendidikan sebagai sebuah ilmu.
Pendapat Pestalozzi tersebut implementasinya dalam pendidikan dilakukan
dalam
pembelajaran klasikal jangan sampai merugikan kepentingan peserta didik
sebagai individu dalam belajr, hal yang diperhatikan adalah kelas
sebagai keseluruan, guru harus menyesuaikan pengajarannya dengan
kemampuan rata-rata peserta didik, akibatnya terpaisa menghamtbat
kamajuan peserta didik yang cepat seta mengabaikan peserta didik yang
lambat. Pengajaran klasikal ini ini cenderuang menempatkan peserta didik
pada posisi yang passif.
Penerapan model pembelajaran klasikal ini dimaksudkan untuk melaksanakan
unsur perbedaan perseorangan dengan tetap menghargai tugas-tugas
bersama dan hak-hak orang lain. Model ini memberikan metode langsung
untuk mengelola suasana pengajaran atau ”Instruksional setting”
dan untuk mengorganisasian peserta didik agar dapat bertanggung jawab
atas situasi kelas dalam proses pembelajaran. Model ini sering disebut
dengan ”Classroom Managemen Model”. Model ini memiliki
karakteristik yang memberikan suasana belajar individual dan kelompok,
serta pencapaian keterampilan sosial.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (cet. V, Bandung: Alfabeta, 2007). S. Nasution, Berbagai Pendekatam dalam Proses Belajar Mengajar, (cet., VII, Jakarta: Bumi Aksara, 2000).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar